Setelah kena tilang yang waktu itu, tanggal 21 April 2008 kemarin saya terkena tilang lagi, ya saya akui saya memang salah, soalnya memutar di putaran yang ada rambu dilarang memutar, putarannya terletak di jln. I Gusti Ngurah Rai daerah buaran jakarta timur, di depan kantor PPP, hehehehe berhubung putaran yang bener jauh banget di depan PMI Jakarta Timur sana, dan emang lagi buru-buru.
Akhirnya disuruh menepi oleh bapak polisi yang jarang-jarang ada di situ (putaran ini memang sering banget dilanggar), diminta memperlihatkan SIM dan STNK, kemudian pak polisi mengeluarkan surat tilang, awalnya mau dikasih yang form merah, tapi saya buru-buru meminta form yang biru, ya sekali-kali nyobain yang biru, yang merah kan udah, lagipula di pengadilannya juga ga ada argumentasinya, langsung divonis bersalah dan bayar denda, mending langsung bayar dendanya aja. Ya udah dikasih form biru, ini awalnya saya ragu akan diberikan form biru, karena banyak mendengar kabar kalau form biru tidak diberikan lagi, ya dengan berhasilnya saya mendapatkan form biru, berarti form biru masih diberikan, walaupun sepertinya pak polisinya agak enggan. SIM saya pun kembali jatuh ke tangan polisi, hehehehe
Pak Polisi langsung menuliskan di surat tilang denda sebesar Rp 30 ribu. Untuk memastikan saya bertanya, 'berarti saya gak perlu ke pulomas (pn jakarta timur) lagi ya pak?', sayang sekali jawaban yang saya dpatkan kurang simpatik, 'lho sampeyan minta form biru berarti ngerti dong, ya langsung bayar ke bank' dengan nada sewot.
Langsung ke kantor, di kantor nyari-nyari alamat bank BRI yang bisa buat bayar denda tilang, gak nemu-nemu (akhirnya tadi -30 April 2008- baru nemu di sini). Karena gak nemu coba sms ke 1717, itu lho sms center-nya Polda Metro Jaya, saya menanyakan bank BRI mana saja yang bisa untuk membayar denda tilang apakah semua cabang atau hanya tertentu saja, 1717 menjawab hanya bank BRI yang tertera di surat tilang saja yang bisa digunakan sebagai tempat pembayaran denda tilang. Saya coba periksa surat tilang saya, waduh lokasi bank-nya tidak ditulis alias kosong, kemudian saya tanyakan lagi ke 1717, mereka menyarankan saya untuk menanyakan ke petugas yang menilang atau ke kesatuan petugas tsb, ya.. gak begitu membantu sih. Hikmahnya adalah kalau nanti kena tilang dan dapat form biru jangan lupa menanyakan lokasi BRI tempat kita bisa membayar denda-nya.
Seminggu kemudian (28 April 2008) pas kebetulan lagi sakit, gak masuk kerja, pas mau ke apotek buat menebus obat, saya pikir sekalian deh ke satwilantas jaktim di daerah kebon nanas. Sampai di sana tanya ke bagian informasi, disuruh ke lantai tiga. Di sini lokasinya agak membingungkan, karena ada loket yang bertuliskan pengambilan barang bukti tilang tapi ditutup dan sepi, saya pikir masih istirahat makan siang, saya tunggu kok lama bener, akhirnya coba mengetuk salah satu pintu ruang yang tertutup di situ, kemudian bertanya kenapa loketnya belum buka-buka, diberitahu bahwa untuk mengambil barang bukti tilang di ruangan sebelah loket itu, yang pintunya tertutup, dan tidak ada papan pengumuman atau tulisan kalau di situlah tempat pengambilan barang bukti tilang, weleh-weleh... Masuk ke situ menyerahkan form biru, kemudian ditanya sudah bayar belum, saya jawab belum karena tidak diberitahukan di BRI mana bisa membayar, akhirnya bapak tersebut memberitahu kalau di wilayah jakarta timur ada dua BRI yang bisa, yaitu yang di Otista (seberang gelanggang remaja) dan satu lagi di Jatinegara Timur, saya pilih yg di Otista karena sering ngelewatin hehehe... Trus ditulis deh di form biru itu lokasi BRI-nya BRI Otista.
Segera meluncur ke BRI Otista, di sini cara membayar denda-nya juga bertahap, pertama kita masuk ke gedung BRI syariah di sebelah BRI-nya untuk mengisi formulir pembayaran denda tilang, di situ ada petugas khususnya, kemudian barulah kita membayar denda tilangnya di teller di gedung BRI.
Setelah itu balik lagi ke satwilantas jaktim di kebon nanas, ke ruangan yang tadi di lantai tiga. saya serahkan surat tilang form biru beserta bukti setoran BRI, cukup nunggu lama kemudian petugasnya saya lihat melihat buku-buku yg terlihat seperti log harian, dan berkata kepada saya bahwa petugasnya belum menyerahkan. Diminta kembali ke situ hari rabu (30 april 2008). Ini kok petugasnya bandel ya gak menyerahkan ke satwilantas? heran saya!.
Hari Rabu(30 April 2008), saya ijin keluar kantor untuk mengambil SIM (janji petugasnya pada hari senin hari ini akan ada). Sampai di satwilantas jaktim, udah mulai curiga kalau SIM saya lagi-lagi belum diserahkan, karena petugasnya (kali ini petugasnya polisi berseragam, bernama Pak Gede) kembali melihat-lihat buku-buku log tersebut. Saya langsung bertanya "Belom ada juga ya Pak? Saya sudah dua kali lho ke sini", Pak Gede menyuruh saya ke bagian piket di bawah untuk menanyakan di mana Sertu Roy PK (petugas yg menilang saya, berhubung nama yg tertera di surat tilang gak jelas, jadi saya baru tahu juga itu namanya).
Di piket, petugasnya ada dua orang, yang satu agak ogah-ogahan melayani pertanyaan saya, dilihat dari sikapnya yg sambil ber-hp ria juga berkali-kali dia menyuruh saya untuk langsung ke Pak Gede lantai tiga. Saya jawab dengan cukup tegas "Saya sudah dua kali ke sini, tapi SIM saya belum diserahkan oleh Bapak Roy PK ini, tadi di lantai tiga Pak Gede menyuruh saya kemari untuk menanyakan di mana lokasi Bapak Roy PK ini". Petugas yang satu lagi kemudian meminta surat tilang saya kemudian dengan menggunakan radio polisi dia menghubungi si Roy PK ini. Diketahui kalo dia sekarang sedang di depan UKI Cawang arah utara.
Langsung saja saya menuju ke UKI Cawang di jalur arah ke Tj.Priok (arah utara) di depan halte UKI Cawang situ saya melihat dua orang polisi (dua orang sama yg menilang saya, yg satu lagi saya tak tahu namanya). Saya menghampiri polisi yang satu lagi, berhubung si Roy PK lg di tengah-tengah jalan, bertanya kepada pak polisi itu apakah saya bisa bertemu dengan bapak Roy PK. Bapak itu pun memanggil koleganya si Roy PK ini. Di tepi jalan saya menagih SIM saya yang ditahan kepada bapak Roy PK sambil menyerahkan surat tilang beserta tanda bukti pembayaran dari BRI. Dia melihat-melihat kemudian menanyakan kepada saya "Cepet banget sih, sekarang baru tanggal berapa?". Weleh-weleh bapak ini gimana sih ini kejadiannya udah seminggu lebih mosok dibilang terlalu cepat saya mengurusnya. Ini saya yang terlalu cepat atau Bapak yang terlalu malas buat menyerahkan SIM saya ke satwilantas.
Kemudian dia berkata bahwa SIM saya ada di mobil patroli, dan mobil patrolinya lagi di arah yg berseberangan dengan lokasi saya, baru akan memutar nanti jam 14.00. Saya segera melihat jam, waktu menunjukkan pukul 14.05, langsung saya bilang "ini udah jam 2 lewat, pak!". Dia kemudian jawab "tunggu sebentar, beli minum aja dulu, tinggal muter doang mobilnya". Saya tak bergerak dari posisi. Kemudian dia bertanya lagi, kali ini sambil cengengesan "Tunggu sebentar, gak kerja kan mas?". Duerrr!!!, ampun dah parah banget ini polisi, padahal saya ijin keluar kantor cuma buat ngambil SIM yang ternyata belum dia serahkan-serahkan ke satwilantas. Saya jawab dengan agak emosi, "Gak pak, saya gak kerja, santai aja pak, sampai maghrib juga gak papa". Mendengar itu kayaknya dia ngerasa juga, dia langsung menghubungi temannya di mobil patroli melalui radio polisi. Akhirnya saya menawarkan bagaimana kalau saya boncengkan dia ke mobil patroli tersebut dgn motor yg saya bawa. Saya sudah memakai helm dan menyalakan mesin motor saat dia tiba-tiba bilang tidak usah, dan kemudian dia mengatakan saya menyeberang saja. Yang ironisnya dia menyeberang langsung saja, padahal jembatan penyeberangan gak jauh dari situ, dan sudah tentu dia menerobos pagar pembatas jalan. Wekekekekek, saya cuma bisa ketawa prihatin saja. Dia kembali lagi membawa beberapa buku tilang, saya lihat banyak sekali bukan milik saya saja. Saya bertanya dalam hati, "ini orang gak pernah nyerahin tilangan-tilangan dia ke satwilantas apa ya?". Akhirnya saya mendapatkan SIM saya kembali, dan saya langsung pergi meninggalkan Roy PK ini. Apa kalau mau mengambil SIM yang ditilang harus dengan metode jemput bola seperti ini ya? Menghampiri langsung petugas yang menilang kita?
Sebaiknya POLRI bisa lebih profesional lagi.......(semoga, itu harapan saya dan seluruh bangsa Indonesia)
Read more...
Showing posts with label tilang. Show all posts
Showing posts with label tilang. Show all posts
Mengurus Tilang v2.0 (Form Biru)
Posted by
anjar widianto
on April 30, 2008
Labels:
belalang tempur,
jakarta,
tilang
/
Comments: (5)
Mengurus Surat Tilang
Posted by
anjar widianto
on March 4, 2008
Labels:
belalang tempur,
jakarta,
tilang
/
Comments: (3)
Sebetulnya kejadian ini udah lama berlangsung, tapi mungkin ada baiknya diceritakan, siapa tahu bermanfaat bagi siapa saja.
Awal mula cerita terjadi saat mau ke nikahan seorang teman di Tanjung Priok tanggal 27 Januari 2008, janjian konvoi motor. Karena yang lain berangkat dari Depok, dan saya sendiri dari rumah, janji ketemu di Cawang Halim. Akhirnya perjalanan berlangsung melewati jalan di bawah jalan layang tol cawang-tanjung priok. Kebetulan karena ada seorang teman rumahnya di tanjung priok, beliau didaulat sebagai penunjuk jalan, dan yang lainnya mengikuti di belakangnya. Awalnya sih mulus-mulus aja, sampai ketika di dekat samsat kebon nanas, saat jalan bercabang menjadi jalur cepat dan lambat. Sesuai peraturan motor harusnya lewat jalur lambat, tetapi entah kenapa si teman sang penunjuk jalan lewat jalur cepat, awalnya agak ragu sih, tapi karena takut tercecer, soalnya memang terakhir dalam barisan, akhirnya ikut pula masuk jalur cepat.
Sekitar 60 meter tiba-tiba dipriitt sama bapak Polisi. Yup kena stop. Sudah terbayang ingatan masa lalu ketika distop oleh polisi dan dapat perlakuan yg tidak 'nyaman' :p. Tetapi sepertinya reformasi yg ada di tubuh POLRI buka isapan jempol, bapak polisi memberi salam dengan ramah, kemudian menanyakan kenapa lewat jalur cepat, ya saya sih mengakui dengan jujur kalau memang saya salah. Akhirnya saya minta tilang dan untuk yg ditahan saya minta SIM saja, berhubung STNK itu atas nama orangtua, hehehehe. Akhirnya dapat surat cinta yang isinya untuk menghadiri sidang di PN Jakarta Timur tanggal 8 Februari 2008. Sempet dikasih tahu juga lokasinya sama bapak Polisi, soalnya emang saya gak tahu jadinya dengan polos nanya dimana, hehehehe. Ternyata di Pulomas situ tho.
Dari 4 motor yg konvoi itu ternyata kisahnya berbeda saat perjumpaan dgn Polisi. Kalo cerita saya seperti di atas, satu orang sama persis dgn saya dapet sidang tanggal 8 Februari juga. Satu orang dapatnya tanggal 1 Februari, kok lebih cepet ya? sedang yg terakhir, sang penunjuk jalan, malah tidak kena, ya berhubung beliau tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara, beliau mempunyai kartu anggota pegawai Lembaga Sandi Negara, jadi beliau 'dibebaskan' oleh Polisi. Agak kesal sih, tapi ya itu mungkin lagi rejekinya gak kena tilang :p.
Ya udah sekarang nunggu sidang, awalnya blank bakal diapain, agak ngeri sih maklum statusnya terdakwa nih, hehehehehe. Tetapi setelah nyari-nyari di Internet akhirnya dapet cerita-cerita menarik. Selain itu dapet juga daftar denda-nya, menurut di table itu kayaknya sih kena pasal 61(1) Yo Psl.23(1) d Yo Psl 8 (1) b UULAJ Yo Psl 21 (1) & (4) PP 43/1993, gak tahu itu apaan, soalnya saya cuma copy-paste dari tabel-nya doang :p. Intinya di situ pelanggarannya "Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar rambu-rambu perintah atau larangan" kena dendanya Rp 30 ribu. Ya udah besok berarti bawa duit setidaknya 30 ribu.
Akhirnya tanggal 8 Feb pergi ke PN Jakarta Timur bareng teman, bukan-bukan bukan sama yg sama-sama sidang tgl 8, tapi sama yg sidang tgl 1. Berhubung tgl 1 Feb Jakarta dilanda hujan badai, dia gak dateng waktu tgl 1 Feb. Sampe di sana jam 09.30, trus langsung ke loket lalu lintas yang ada di sana. Karena memang hari itu sepi antrian cuma dua orang, saya sama teman saya, hehehehe. Teman saya dipanggil, lalu langsung disuruh bayar denda sebesar Rp 30.000. Kemudian saya dipanggil, saya lihat petugas mencap surat tilang saya, kemudian menuliskan sesusatu. Lalu surat tilang tsb dikembalikan kepada saya, kemudian petugas itu mengatakan sidangnya diundur jadi minggu depan tgl 15 Februari. Saya bertanya kenapa diundur? Dia menjelaskan bahwa hari ini seharusnya libur (tgl 7 Feb itu tgl merah Hari Imlek, dan rencananya 8 feb itu cuti bersama, tapi dibatalkan oleh pemerintah). Saya pun bertanya bukannya cuti bersamanya dibatalkan pak? Beliau mengatakan bahwa pengumuman pembatalan itu mendadak sehingga PN Jakarta Timur tetap libur. ???? Aneh memang, ya.. itulah Indonesia.
Lalu kenapa teman saya langsung bayar denda dan mendapatkan SIM-nya kembali? Itu karena sidangnya harusnya tgl 1, jadi mungkin dia disidang secara in-absentia. Jadi dia tinggal bayar dendanya. Ya sudahlah sebagai hamba hukum patuh saja sama keputusan pengadilan, kalau diundur ya diundur, hehehehe.
Tgl 15 Feb datang lagi, kali ini sampai di sana pukul 09.40. Suasana lebih ramai dari tanggal 8. Baru saja sampai langsung dihampiri mas-mas, sepertinya calo, berikut percakapannya
Calo : mau urus apa mas?
saya : SIM
Calo : mau dibantu?
saya : makasih gak usah
calo : lama lho, sejam lagi istirahat
saya : ya gapapa klo istirahat, ditunggu sampe masuk lagi.
langsung menuju ke loket, sebelum sampai, tiba2 ada bapak2 tua memakai baju koko dan kopiah tiba-tiba langsung mencegat, kemudian nawarin jasa calonya. Agak kasar dan gak sopan dibanding mas-mas yg tadi, langsung aja saya bentak gak. Kemudian serahin surat tilang ke loket, nunggu dipanggil lama banget, agak banyak memang 'terdakwa'-nya. Saya lihat banyak sekali orang yg juga kena tilang tampangnya linglung semua, sehingga banyak pula yang percaya pada calo. Akhirnya setelah agak lama berdiri dipanggil juga saya, disuruh menuju ke ruang sidang.
Sampai di ruang sidang disuruh menunggu, lumayan bosen juga. Saat nunggu sempet ngobrol sama 'terdakwa' yang lain hehehe. Rata-rata meraka pada gak sabaran dan sepertinya mereka cenderung mememilih 'damai' di jalan dibandingkan ikut sidang. Akhirnya para 'terdakwa' dipanggil satu-satu, saya termasuk yang dipanggil awal-awal. Saat di depan meja hakim saya hanya melihat dan mengikuti berkas tilang serta SIM saya ditandatangani para hakim kemudian saya ambil dan serahkan ke kasir (letak kasirnya cuma di depan meja hakim-nya) lalu diberitahukan denda-nya, sebetulnya denda-nya ada di berkas tilang-nya tapi saya sengaja tidak segera mengeluarkan uang biar kasirnya memberi tahu, yak Rp 26.000 itu jumlah denda tilang yg saya harus bayar. Saya ambil SIM saya, kemudian keluar ruang sidang, sejenak lihat jam di handphone, pukul 10.15. Wowww kata siapa ngurus tilang susah? dateng jam 09.40 selesai jam 10.15 cuma 35 menit. Hehehehe. Gampang kok dan gak lama. Salut deh ama ditlantas polda metro jaya dan sedikit salut buat PN jakarta Timur (soalnya sidang saya diundur gara-gara alasan yg aneh).
Jadi saya sarankan buat siapa aja yang melanggar lalu lintas di jalan, mending jangan main 'damai' sama polisi. Soalnya jelas-jelas kita salah (bagi yg bener-bener salah) mosok nambahin kesalahan lagi dengan menyuap si bapak polisi. Lagipula dendanya cuma 26 ribu kok, klo di jalan kan keluar setidaknya 50 ribu.
Kalau mau Indonesia tertib dan maju, memang harus kita tertibkan dan majukan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Read more...
Awal mula cerita terjadi saat mau ke nikahan seorang teman di Tanjung Priok tanggal 27 Januari 2008, janjian konvoi motor. Karena yang lain berangkat dari Depok, dan saya sendiri dari rumah, janji ketemu di Cawang Halim. Akhirnya perjalanan berlangsung melewati jalan di bawah jalan layang tol cawang-tanjung priok. Kebetulan karena ada seorang teman rumahnya di tanjung priok, beliau didaulat sebagai penunjuk jalan, dan yang lainnya mengikuti di belakangnya. Awalnya sih mulus-mulus aja, sampai ketika di dekat samsat kebon nanas, saat jalan bercabang menjadi jalur cepat dan lambat. Sesuai peraturan motor harusnya lewat jalur lambat, tetapi entah kenapa si teman sang penunjuk jalan lewat jalur cepat, awalnya agak ragu sih, tapi karena takut tercecer, soalnya memang terakhir dalam barisan, akhirnya ikut pula masuk jalur cepat.
Sekitar 60 meter tiba-tiba dipriitt sama bapak Polisi. Yup kena stop. Sudah terbayang ingatan masa lalu ketika distop oleh polisi dan dapat perlakuan yg tidak 'nyaman' :p. Tetapi sepertinya reformasi yg ada di tubuh POLRI buka isapan jempol, bapak polisi memberi salam dengan ramah, kemudian menanyakan kenapa lewat jalur cepat, ya saya sih mengakui dengan jujur kalau memang saya salah. Akhirnya saya minta tilang dan untuk yg ditahan saya minta SIM saja, berhubung STNK itu atas nama orangtua, hehehehe. Akhirnya dapat surat cinta yang isinya untuk menghadiri sidang di PN Jakarta Timur tanggal 8 Februari 2008. Sempet dikasih tahu juga lokasinya sama bapak Polisi, soalnya emang saya gak tahu jadinya dengan polos nanya dimana, hehehehe. Ternyata di Pulomas situ tho.
Dari 4 motor yg konvoi itu ternyata kisahnya berbeda saat perjumpaan dgn Polisi. Kalo cerita saya seperti di atas, satu orang sama persis dgn saya dapet sidang tanggal 8 Februari juga. Satu orang dapatnya tanggal 1 Februari, kok lebih cepet ya? sedang yg terakhir, sang penunjuk jalan, malah tidak kena, ya berhubung beliau tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara, beliau mempunyai kartu anggota pegawai Lembaga Sandi Negara, jadi beliau 'dibebaskan' oleh Polisi. Agak kesal sih, tapi ya itu mungkin lagi rejekinya gak kena tilang :p.
Ya udah sekarang nunggu sidang, awalnya blank bakal diapain, agak ngeri sih maklum statusnya terdakwa nih, hehehehehe. Tetapi setelah nyari-nyari di Internet akhirnya dapet cerita-cerita menarik. Selain itu dapet juga daftar denda-nya, menurut di table itu kayaknya sih kena pasal 61(1) Yo Psl.23(1) d Yo Psl 8 (1) b UULAJ Yo Psl 21 (1) & (4) PP 43/1993, gak tahu itu apaan, soalnya saya cuma copy-paste dari tabel-nya doang :p. Intinya di situ pelanggarannya "Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar rambu-rambu perintah atau larangan" kena dendanya Rp 30 ribu. Ya udah besok berarti bawa duit setidaknya 30 ribu.
Akhirnya tanggal 8 Feb pergi ke PN Jakarta Timur bareng teman, bukan-bukan bukan sama yg sama-sama sidang tgl 8, tapi sama yg sidang tgl 1. Berhubung tgl 1 Feb Jakarta dilanda hujan badai, dia gak dateng waktu tgl 1 Feb. Sampe di sana jam 09.30, trus langsung ke loket lalu lintas yang ada di sana. Karena memang hari itu sepi antrian cuma dua orang, saya sama teman saya, hehehehe. Teman saya dipanggil, lalu langsung disuruh bayar denda sebesar Rp 30.000. Kemudian saya dipanggil, saya lihat petugas mencap surat tilang saya, kemudian menuliskan sesusatu. Lalu surat tilang tsb dikembalikan kepada saya, kemudian petugas itu mengatakan sidangnya diundur jadi minggu depan tgl 15 Februari. Saya bertanya kenapa diundur? Dia menjelaskan bahwa hari ini seharusnya libur (tgl 7 Feb itu tgl merah Hari Imlek, dan rencananya 8 feb itu cuti bersama, tapi dibatalkan oleh pemerintah). Saya pun bertanya bukannya cuti bersamanya dibatalkan pak? Beliau mengatakan bahwa pengumuman pembatalan itu mendadak sehingga PN Jakarta Timur tetap libur. ???? Aneh memang, ya.. itulah Indonesia.
Lalu kenapa teman saya langsung bayar denda dan mendapatkan SIM-nya kembali? Itu karena sidangnya harusnya tgl 1, jadi mungkin dia disidang secara in-absentia. Jadi dia tinggal bayar dendanya. Ya sudahlah sebagai hamba hukum patuh saja sama keputusan pengadilan, kalau diundur ya diundur, hehehehe.
Tgl 15 Feb datang lagi, kali ini sampai di sana pukul 09.40. Suasana lebih ramai dari tanggal 8. Baru saja sampai langsung dihampiri mas-mas, sepertinya calo, berikut percakapannya
Calo : mau urus apa mas?
saya : SIM
Calo : mau dibantu?
saya : makasih gak usah
calo : lama lho, sejam lagi istirahat
saya : ya gapapa klo istirahat, ditunggu sampe masuk lagi.
langsung menuju ke loket, sebelum sampai, tiba2 ada bapak2 tua memakai baju koko dan kopiah tiba-tiba langsung mencegat, kemudian nawarin jasa calonya. Agak kasar dan gak sopan dibanding mas-mas yg tadi, langsung aja saya bentak gak. Kemudian serahin surat tilang ke loket, nunggu dipanggil lama banget, agak banyak memang 'terdakwa'-nya. Saya lihat banyak sekali orang yg juga kena tilang tampangnya linglung semua, sehingga banyak pula yang percaya pada calo. Akhirnya setelah agak lama berdiri dipanggil juga saya, disuruh menuju ke ruang sidang.
Sampai di ruang sidang disuruh menunggu, lumayan bosen juga. Saat nunggu sempet ngobrol sama 'terdakwa' yang lain hehehe. Rata-rata meraka pada gak sabaran dan sepertinya mereka cenderung mememilih 'damai' di jalan dibandingkan ikut sidang. Akhirnya para 'terdakwa' dipanggil satu-satu, saya termasuk yang dipanggil awal-awal. Saat di depan meja hakim saya hanya melihat dan mengikuti berkas tilang serta SIM saya ditandatangani para hakim kemudian saya ambil dan serahkan ke kasir (letak kasirnya cuma di depan meja hakim-nya) lalu diberitahukan denda-nya, sebetulnya denda-nya ada di berkas tilang-nya tapi saya sengaja tidak segera mengeluarkan uang biar kasirnya memberi tahu, yak Rp 26.000 itu jumlah denda tilang yg saya harus bayar. Saya ambil SIM saya, kemudian keluar ruang sidang, sejenak lihat jam di handphone, pukul 10.15. Wowww kata siapa ngurus tilang susah? dateng jam 09.40 selesai jam 10.15 cuma 35 menit. Hehehehe. Gampang kok dan gak lama. Salut deh ama ditlantas polda metro jaya dan sedikit salut buat PN jakarta Timur (soalnya sidang saya diundur gara-gara alasan yg aneh).
Jadi saya sarankan buat siapa aja yang melanggar lalu lintas di jalan, mending jangan main 'damai' sama polisi. Soalnya jelas-jelas kita salah (bagi yg bener-bener salah) mosok nambahin kesalahan lagi dengan menyuap si bapak polisi. Lagipula dendanya cuma 26 ribu kok, klo di jalan kan keluar setidaknya 50 ribu.
Kalau mau Indonesia tertib dan maju, memang harus kita tertibkan dan majukan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Read more...