Kemarin (8 November 2008), buat pertama kalinya saya bayar pajak si belalang tempur, hehehehehe. Sebelumnya selalu bapak yg bayarin, tapi lama-lama ngerasa ga enak juga soalnya sudah 2 tahun ini saya yang make belalang tempur, akhirnya untuk tahun ini saya menawarkan diri untuk yang membayarnya.
Akhirnya menyiapkan apa saja yang harus dibawa :
1. STNK asli
2. KTP pemilik asli (dalam hal ini KTP bapak)
3. BPKB
Yosh jam 8 lewat saya jalan dari rumah, mampir ke ATM sebentar, soalnya di dompet cuma ada duit 30 ribu perak (halah ketauan lg bokek XD). Sampai di Satwilantas Jakarta Timur (samsat) sekitar jam 08.45. Eh ternyata salah tempat, saya malah ke tempat yg buat ngurus tilang dan perpanjang SIM, maklum dulu seringnya ke situ (hehehehe). Akhirnya ke gedung yang benar, eh calo kok banyak banget sih di parkiran, tanpa menggubris mereka langsung masuk ke gedungnya.
Weks bingung, akhirnya nanya ke satpam di situ klo mau bayar pajak sepeda motor ngambil formulir-nya dimana (soalnya saya cari2 di lantai bawah itu, gak nampak adanya tempat mengambil formulir). Diberitahukan kalo mau ngambil formulir adanya di lantai dua, segera menuju ke atas. dia tempat yg nampaknya aula, saya melihat 2 meja dgn 4 petugas memberikan formulir di situ. Saya minta satu, formulir gratis, cuma ada sumbangan PMI sebesar Rp 1000. Sip bayar sumbangan PMI dan saya dapat formulirnya. Saya segera isi formulir di situ juga, berhubung ada meja banyak di situ dan banyak pula yg pada ngisi, jadi ikut ngisi juga lah coy...
Trus baru nyadar klo ternyata formulir itu diserahkan sambil menyerahkan STNK asli + fotokopi, KTP asli + fotokopi, dan fotokopi BPKB, waduh baru nyadar belom difotokopi, akhirnya nanya-nanya lagi (kebanyakan nanya nih) tempat fotokopian di situ ada di mana. Dapat informasi letaknya ada di lantai satu di belakang air mancur. Segera meluncur ke TKP, ada 2 mesin fotokopi di sana, dan nampaknya orang yang mengoperasikannya sudah hapal apa yg harus mereka lakukan, saya fotokopikan 3 item tersebut, mereka pun langsung meminta formulir saya lalu segera merapikan dokumen saya (formulir, STNK+fotokopi, KTP+fotokopi, serta fotokopi BPKB), distaples dgn rapih, wah makasih mas. Bayar ongkos fotokopian sebesar Rp 2.000.
Langsung ke loket pendaftaran, lumayan dapet antrian agak depan, eh ternyata saya lupa mengisi beberapa isian di formulir, akhirnya menepi sejenak buat melengkapi, pas mau balik ke antrian, wuidih... dah panjang aja hehehehehehe. Ya udah antri lagi, serahkan berkas-berkas, trus dikasih nomor urut, dapat nomor urut panggil 440, sejenak melihat nomor yg sedang dipanggil di layar monitor, baru nomor 285, T_T bakalan lama banget nih nunggu giliran.
Akhirnya nunggu, awalnya mati gaya mo ngapain akhirnya dapet tempat duduk, terus nyoba ngobrol2 sama orang2 di sebelah, yah lumayanlah dapat kenalan baru. 2 orang bapak-bapak yg keduanya sudah pensiun. Kedua bapak itu dipanggil terlebih dahulu, soalnya memang nomornya lebih muda dari saya.
Tiba juga giliran nomor 440 dipanggil, maju ke loket 2 dapat slip jumlah pajak yang harus dibayar serta KTP asli, segera ke loket berikutnya untuk membayar, agak heran awalnya soalnya orang2 pada menumpuk di loket 3. Padahal di loket 4 juga bisa, akhirnya saya cuek aja menuju ke loket 4, tuh kan bisa juga, akhirnya yg lain pada ngikutin saya hehehehehehe. Di slip-nya total jumlah yg harus dibayar Rp 183.500, saya menyerahkan 2 lembar seratus ribu, terus dikembalikan sebesar Rp 15.000, mmmm.... kok kurang ya? hehehehehe ya sudahlah saya pikir mungkin gak ada uang receh Rp 1.500.
Nunggu lagi untuk dapatin STNK lagi, ga terlalu lama dibandingkan nunggu yg pertama. Segera saat mendengar nama bapak dipanggil (soalnya STNK kan atas nama bapak) saya maju ke depan. Saya periksa lagi kali-kali aja ada yg salah, benar semua, trus diberesin masukin lagi ke dompet, terus menuju ke parkiran, saat akan keluar gedung sejenak lihat jam di hape, waktu menunjukkan pukul 09.51. Wah cepat juga ya kira-kira satu jam... hehehehe padahal itu pake acara nanya-nanya dan bingung segala.
Mungkin sedikit tips dari saya untuk yang ingin membayar pajak kendaraan roda dua di samsat Jakarta Timur:
1. Dari rumah sudah persiapkan kelangkapan yg perlu, yaitu
- STNK + fotokopi
- KTP pemilik + fotkopi
- fotokopi BPKB (aslinya ga perlu)
2. Ambil formulir pendaftaran di lantai 2, lalu isi dengan lengkap
3. Kalo poin satu belum difotokopi bisa fotokopi di lantai 1 di belakang air mancur
4. Setelah lengkap langsung ke loket 1 (pendaftaran), nanti bakal dapat nomor urut
5. Tunggu sampai nomor dipanggil, lalu ambil slip pajak serta KTP asli di loket 2
6. Langsung menuju loket 3 atau 4 untuk bayar pajaknya
7. Tunggu lagi samapi nama Anda dipanggil untuk mendapatkan STNK
8. Begitu nama Anda dipanggil segera maju ke loket pengambilan STNK, periksa dengan cermat STNK Anda, apakah benar atau tidak.
9. Wassalam :)
Read more...
Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts
Bayar Pajak Sepeda Motor
Posted by
anjar widianto
on November 9, 2008
Labels:
belalang tempur,
jakarta
/
Comments: (6)
Mengurus Tilang v2.0 (Form Biru)
Posted by
anjar widianto
on April 30, 2008
Labels:
belalang tempur,
jakarta,
tilang
/
Comments: (5)
Setelah kena tilang yang waktu itu, tanggal 21 April 2008 kemarin saya terkena tilang lagi, ya saya akui saya memang salah, soalnya memutar di putaran yang ada rambu dilarang memutar, putarannya terletak di jln. I Gusti Ngurah Rai daerah buaran jakarta timur, di depan kantor PPP, hehehehe berhubung putaran yang bener jauh banget di depan PMI Jakarta Timur sana, dan emang lagi buru-buru.
Akhirnya disuruh menepi oleh bapak polisi yang jarang-jarang ada di situ (putaran ini memang sering banget dilanggar), diminta memperlihatkan SIM dan STNK, kemudian pak polisi mengeluarkan surat tilang, awalnya mau dikasih yang form merah, tapi saya buru-buru meminta form yang biru, ya sekali-kali nyobain yang biru, yang merah kan udah, lagipula di pengadilannya juga ga ada argumentasinya, langsung divonis bersalah dan bayar denda, mending langsung bayar dendanya aja. Ya udah dikasih form biru, ini awalnya saya ragu akan diberikan form biru, karena banyak mendengar kabar kalau form biru tidak diberikan lagi, ya dengan berhasilnya saya mendapatkan form biru, berarti form biru masih diberikan, walaupun sepertinya pak polisinya agak enggan. SIM saya pun kembali jatuh ke tangan polisi, hehehehe
Pak Polisi langsung menuliskan di surat tilang denda sebesar Rp 30 ribu. Untuk memastikan saya bertanya, 'berarti saya gak perlu ke pulomas (pn jakarta timur) lagi ya pak?', sayang sekali jawaban yang saya dpatkan kurang simpatik, 'lho sampeyan minta form biru berarti ngerti dong, ya langsung bayar ke bank' dengan nada sewot.
Langsung ke kantor, di kantor nyari-nyari alamat bank BRI yang bisa buat bayar denda tilang, gak nemu-nemu (akhirnya tadi -30 April 2008- baru nemu di sini). Karena gak nemu coba sms ke 1717, itu lho sms center-nya Polda Metro Jaya, saya menanyakan bank BRI mana saja yang bisa untuk membayar denda tilang apakah semua cabang atau hanya tertentu saja, 1717 menjawab hanya bank BRI yang tertera di surat tilang saja yang bisa digunakan sebagai tempat pembayaran denda tilang. Saya coba periksa surat tilang saya, waduh lokasi bank-nya tidak ditulis alias kosong, kemudian saya tanyakan lagi ke 1717, mereka menyarankan saya untuk menanyakan ke petugas yang menilang atau ke kesatuan petugas tsb, ya.. gak begitu membantu sih. Hikmahnya adalah kalau nanti kena tilang dan dapat form biru jangan lupa menanyakan lokasi BRI tempat kita bisa membayar denda-nya.
Seminggu kemudian (28 April 2008) pas kebetulan lagi sakit, gak masuk kerja, pas mau ke apotek buat menebus obat, saya pikir sekalian deh ke satwilantas jaktim di daerah kebon nanas. Sampai di sana tanya ke bagian informasi, disuruh ke lantai tiga. Di sini lokasinya agak membingungkan, karena ada loket yang bertuliskan pengambilan barang bukti tilang tapi ditutup dan sepi, saya pikir masih istirahat makan siang, saya tunggu kok lama bener, akhirnya coba mengetuk salah satu pintu ruang yang tertutup di situ, kemudian bertanya kenapa loketnya belum buka-buka, diberitahu bahwa untuk mengambil barang bukti tilang di ruangan sebelah loket itu, yang pintunya tertutup, dan tidak ada papan pengumuman atau tulisan kalau di situlah tempat pengambilan barang bukti tilang, weleh-weleh... Masuk ke situ menyerahkan form biru, kemudian ditanya sudah bayar belum, saya jawab belum karena tidak diberitahukan di BRI mana bisa membayar, akhirnya bapak tersebut memberitahu kalau di wilayah jakarta timur ada dua BRI yang bisa, yaitu yang di Otista (seberang gelanggang remaja) dan satu lagi di Jatinegara Timur, saya pilih yg di Otista karena sering ngelewatin hehehe... Trus ditulis deh di form biru itu lokasi BRI-nya BRI Otista.
Segera meluncur ke BRI Otista, di sini cara membayar denda-nya juga bertahap, pertama kita masuk ke gedung BRI syariah di sebelah BRI-nya untuk mengisi formulir pembayaran denda tilang, di situ ada petugas khususnya, kemudian barulah kita membayar denda tilangnya di teller di gedung BRI.
Setelah itu balik lagi ke satwilantas jaktim di kebon nanas, ke ruangan yang tadi di lantai tiga. saya serahkan surat tilang form biru beserta bukti setoran BRI, cukup nunggu lama kemudian petugasnya saya lihat melihat buku-buku yg terlihat seperti log harian, dan berkata kepada saya bahwa petugasnya belum menyerahkan. Diminta kembali ke situ hari rabu (30 april 2008). Ini kok petugasnya bandel ya gak menyerahkan ke satwilantas? heran saya!.
Hari Rabu(30 April 2008), saya ijin keluar kantor untuk mengambil SIM (janji petugasnya pada hari senin hari ini akan ada). Sampai di satwilantas jaktim, udah mulai curiga kalau SIM saya lagi-lagi belum diserahkan, karena petugasnya (kali ini petugasnya polisi berseragam, bernama Pak Gede) kembali melihat-lihat buku-buku log tersebut. Saya langsung bertanya "Belom ada juga ya Pak? Saya sudah dua kali lho ke sini", Pak Gede menyuruh saya ke bagian piket di bawah untuk menanyakan di mana Sertu Roy PK (petugas yg menilang saya, berhubung nama yg tertera di surat tilang gak jelas, jadi saya baru tahu juga itu namanya).
Di piket, petugasnya ada dua orang, yang satu agak ogah-ogahan melayani pertanyaan saya, dilihat dari sikapnya yg sambil ber-hp ria juga berkali-kali dia menyuruh saya untuk langsung ke Pak Gede lantai tiga. Saya jawab dengan cukup tegas "Saya sudah dua kali ke sini, tapi SIM saya belum diserahkan oleh Bapak Roy PK ini, tadi di lantai tiga Pak Gede menyuruh saya kemari untuk menanyakan di mana lokasi Bapak Roy PK ini". Petugas yang satu lagi kemudian meminta surat tilang saya kemudian dengan menggunakan radio polisi dia menghubungi si Roy PK ini. Diketahui kalo dia sekarang sedang di depan UKI Cawang arah utara.
Langsung saja saya menuju ke UKI Cawang di jalur arah ke Tj.Priok (arah utara) di depan halte UKI Cawang situ saya melihat dua orang polisi (dua orang sama yg menilang saya, yg satu lagi saya tak tahu namanya). Saya menghampiri polisi yang satu lagi, berhubung si Roy PK lg di tengah-tengah jalan, bertanya kepada pak polisi itu apakah saya bisa bertemu dengan bapak Roy PK. Bapak itu pun memanggil koleganya si Roy PK ini. Di tepi jalan saya menagih SIM saya yang ditahan kepada bapak Roy PK sambil menyerahkan surat tilang beserta tanda bukti pembayaran dari BRI. Dia melihat-melihat kemudian menanyakan kepada saya "Cepet banget sih, sekarang baru tanggal berapa?". Weleh-weleh bapak ini gimana sih ini kejadiannya udah seminggu lebih mosok dibilang terlalu cepat saya mengurusnya. Ini saya yang terlalu cepat atau Bapak yang terlalu malas buat menyerahkan SIM saya ke satwilantas.
Kemudian dia berkata bahwa SIM saya ada di mobil patroli, dan mobil patrolinya lagi di arah yg berseberangan dengan lokasi saya, baru akan memutar nanti jam 14.00. Saya segera melihat jam, waktu menunjukkan pukul 14.05, langsung saya bilang "ini udah jam 2 lewat, pak!". Dia kemudian jawab "tunggu sebentar, beli minum aja dulu, tinggal muter doang mobilnya". Saya tak bergerak dari posisi. Kemudian dia bertanya lagi, kali ini sambil cengengesan "Tunggu sebentar, gak kerja kan mas?". Duerrr!!!, ampun dah parah banget ini polisi, padahal saya ijin keluar kantor cuma buat ngambil SIM yang ternyata belum dia serahkan-serahkan ke satwilantas. Saya jawab dengan agak emosi, "Gak pak, saya gak kerja, santai aja pak, sampai maghrib juga gak papa". Mendengar itu kayaknya dia ngerasa juga, dia langsung menghubungi temannya di mobil patroli melalui radio polisi. Akhirnya saya menawarkan bagaimana kalau saya boncengkan dia ke mobil patroli tersebut dgn motor yg saya bawa. Saya sudah memakai helm dan menyalakan mesin motor saat dia tiba-tiba bilang tidak usah, dan kemudian dia mengatakan saya menyeberang saja. Yang ironisnya dia menyeberang langsung saja, padahal jembatan penyeberangan gak jauh dari situ, dan sudah tentu dia menerobos pagar pembatas jalan. Wekekekekek, saya cuma bisa ketawa prihatin saja. Dia kembali lagi membawa beberapa buku tilang, saya lihat banyak sekali bukan milik saya saja. Saya bertanya dalam hati, "ini orang gak pernah nyerahin tilangan-tilangan dia ke satwilantas apa ya?". Akhirnya saya mendapatkan SIM saya kembali, dan saya langsung pergi meninggalkan Roy PK ini. Apa kalau mau mengambil SIM yang ditilang harus dengan metode jemput bola seperti ini ya? Menghampiri langsung petugas yang menilang kita?
Sebaiknya POLRI bisa lebih profesional lagi.......(semoga, itu harapan saya dan seluruh bangsa Indonesia)
Read more...
Akhirnya disuruh menepi oleh bapak polisi yang jarang-jarang ada di situ (putaran ini memang sering banget dilanggar), diminta memperlihatkan SIM dan STNK, kemudian pak polisi mengeluarkan surat tilang, awalnya mau dikasih yang form merah, tapi saya buru-buru meminta form yang biru, ya sekali-kali nyobain yang biru, yang merah kan udah, lagipula di pengadilannya juga ga ada argumentasinya, langsung divonis bersalah dan bayar denda, mending langsung bayar dendanya aja. Ya udah dikasih form biru, ini awalnya saya ragu akan diberikan form biru, karena banyak mendengar kabar kalau form biru tidak diberikan lagi, ya dengan berhasilnya saya mendapatkan form biru, berarti form biru masih diberikan, walaupun sepertinya pak polisinya agak enggan. SIM saya pun kembali jatuh ke tangan polisi, hehehehe
Pak Polisi langsung menuliskan di surat tilang denda sebesar Rp 30 ribu. Untuk memastikan saya bertanya, 'berarti saya gak perlu ke pulomas (pn jakarta timur) lagi ya pak?', sayang sekali jawaban yang saya dpatkan kurang simpatik, 'lho sampeyan minta form biru berarti ngerti dong, ya langsung bayar ke bank' dengan nada sewot.
Langsung ke kantor, di kantor nyari-nyari alamat bank BRI yang bisa buat bayar denda tilang, gak nemu-nemu (akhirnya tadi -30 April 2008- baru nemu di sini). Karena gak nemu coba sms ke 1717, itu lho sms center-nya Polda Metro Jaya, saya menanyakan bank BRI mana saja yang bisa untuk membayar denda tilang apakah semua cabang atau hanya tertentu saja, 1717 menjawab hanya bank BRI yang tertera di surat tilang saja yang bisa digunakan sebagai tempat pembayaran denda tilang. Saya coba periksa surat tilang saya, waduh lokasi bank-nya tidak ditulis alias kosong, kemudian saya tanyakan lagi ke 1717, mereka menyarankan saya untuk menanyakan ke petugas yang menilang atau ke kesatuan petugas tsb, ya.. gak begitu membantu sih. Hikmahnya adalah kalau nanti kena tilang dan dapat form biru jangan lupa menanyakan lokasi BRI tempat kita bisa membayar denda-nya.
Seminggu kemudian (28 April 2008) pas kebetulan lagi sakit, gak masuk kerja, pas mau ke apotek buat menebus obat, saya pikir sekalian deh ke satwilantas jaktim di daerah kebon nanas. Sampai di sana tanya ke bagian informasi, disuruh ke lantai tiga. Di sini lokasinya agak membingungkan, karena ada loket yang bertuliskan pengambilan barang bukti tilang tapi ditutup dan sepi, saya pikir masih istirahat makan siang, saya tunggu kok lama bener, akhirnya coba mengetuk salah satu pintu ruang yang tertutup di situ, kemudian bertanya kenapa loketnya belum buka-buka, diberitahu bahwa untuk mengambil barang bukti tilang di ruangan sebelah loket itu, yang pintunya tertutup, dan tidak ada papan pengumuman atau tulisan kalau di situlah tempat pengambilan barang bukti tilang, weleh-weleh... Masuk ke situ menyerahkan form biru, kemudian ditanya sudah bayar belum, saya jawab belum karena tidak diberitahukan di BRI mana bisa membayar, akhirnya bapak tersebut memberitahu kalau di wilayah jakarta timur ada dua BRI yang bisa, yaitu yang di Otista (seberang gelanggang remaja) dan satu lagi di Jatinegara Timur, saya pilih yg di Otista karena sering ngelewatin hehehe... Trus ditulis deh di form biru itu lokasi BRI-nya BRI Otista.
Segera meluncur ke BRI Otista, di sini cara membayar denda-nya juga bertahap, pertama kita masuk ke gedung BRI syariah di sebelah BRI-nya untuk mengisi formulir pembayaran denda tilang, di situ ada petugas khususnya, kemudian barulah kita membayar denda tilangnya di teller di gedung BRI.
Setelah itu balik lagi ke satwilantas jaktim di kebon nanas, ke ruangan yang tadi di lantai tiga. saya serahkan surat tilang form biru beserta bukti setoran BRI, cukup nunggu lama kemudian petugasnya saya lihat melihat buku-buku yg terlihat seperti log harian, dan berkata kepada saya bahwa petugasnya belum menyerahkan. Diminta kembali ke situ hari rabu (30 april 2008). Ini kok petugasnya bandel ya gak menyerahkan ke satwilantas? heran saya!.
Hari Rabu(30 April 2008), saya ijin keluar kantor untuk mengambil SIM (janji petugasnya pada hari senin hari ini akan ada). Sampai di satwilantas jaktim, udah mulai curiga kalau SIM saya lagi-lagi belum diserahkan, karena petugasnya (kali ini petugasnya polisi berseragam, bernama Pak Gede) kembali melihat-lihat buku-buku log tersebut. Saya langsung bertanya "Belom ada juga ya Pak? Saya sudah dua kali lho ke sini", Pak Gede menyuruh saya ke bagian piket di bawah untuk menanyakan di mana Sertu Roy PK (petugas yg menilang saya, berhubung nama yg tertera di surat tilang gak jelas, jadi saya baru tahu juga itu namanya).
Di piket, petugasnya ada dua orang, yang satu agak ogah-ogahan melayani pertanyaan saya, dilihat dari sikapnya yg sambil ber-hp ria juga berkali-kali dia menyuruh saya untuk langsung ke Pak Gede lantai tiga. Saya jawab dengan cukup tegas "Saya sudah dua kali ke sini, tapi SIM saya belum diserahkan oleh Bapak Roy PK ini, tadi di lantai tiga Pak Gede menyuruh saya kemari untuk menanyakan di mana lokasi Bapak Roy PK ini". Petugas yang satu lagi kemudian meminta surat tilang saya kemudian dengan menggunakan radio polisi dia menghubungi si Roy PK ini. Diketahui kalo dia sekarang sedang di depan UKI Cawang arah utara.
Langsung saja saya menuju ke UKI Cawang di jalur arah ke Tj.Priok (arah utara) di depan halte UKI Cawang situ saya melihat dua orang polisi (dua orang sama yg menilang saya, yg satu lagi saya tak tahu namanya). Saya menghampiri polisi yang satu lagi, berhubung si Roy PK lg di tengah-tengah jalan, bertanya kepada pak polisi itu apakah saya bisa bertemu dengan bapak Roy PK. Bapak itu pun memanggil koleganya si Roy PK ini. Di tepi jalan saya menagih SIM saya yang ditahan kepada bapak Roy PK sambil menyerahkan surat tilang beserta tanda bukti pembayaran dari BRI. Dia melihat-melihat kemudian menanyakan kepada saya "Cepet banget sih, sekarang baru tanggal berapa?". Weleh-weleh bapak ini gimana sih ini kejadiannya udah seminggu lebih mosok dibilang terlalu cepat saya mengurusnya. Ini saya yang terlalu cepat atau Bapak yang terlalu malas buat menyerahkan SIM saya ke satwilantas.
Kemudian dia berkata bahwa SIM saya ada di mobil patroli, dan mobil patrolinya lagi di arah yg berseberangan dengan lokasi saya, baru akan memutar nanti jam 14.00. Saya segera melihat jam, waktu menunjukkan pukul 14.05, langsung saya bilang "ini udah jam 2 lewat, pak!". Dia kemudian jawab "tunggu sebentar, beli minum aja dulu, tinggal muter doang mobilnya". Saya tak bergerak dari posisi. Kemudian dia bertanya lagi, kali ini sambil cengengesan "Tunggu sebentar, gak kerja kan mas?". Duerrr!!!, ampun dah parah banget ini polisi, padahal saya ijin keluar kantor cuma buat ngambil SIM yang ternyata belum dia serahkan-serahkan ke satwilantas. Saya jawab dengan agak emosi, "Gak pak, saya gak kerja, santai aja pak, sampai maghrib juga gak papa". Mendengar itu kayaknya dia ngerasa juga, dia langsung menghubungi temannya di mobil patroli melalui radio polisi. Akhirnya saya menawarkan bagaimana kalau saya boncengkan dia ke mobil patroli tersebut dgn motor yg saya bawa. Saya sudah memakai helm dan menyalakan mesin motor saat dia tiba-tiba bilang tidak usah, dan kemudian dia mengatakan saya menyeberang saja. Yang ironisnya dia menyeberang langsung saja, padahal jembatan penyeberangan gak jauh dari situ, dan sudah tentu dia menerobos pagar pembatas jalan. Wekekekekek, saya cuma bisa ketawa prihatin saja. Dia kembali lagi membawa beberapa buku tilang, saya lihat banyak sekali bukan milik saya saja. Saya bertanya dalam hati, "ini orang gak pernah nyerahin tilangan-tilangan dia ke satwilantas apa ya?". Akhirnya saya mendapatkan SIM saya kembali, dan saya langsung pergi meninggalkan Roy PK ini. Apa kalau mau mengambil SIM yang ditilang harus dengan metode jemput bola seperti ini ya? Menghampiri langsung petugas yang menilang kita?
Sebaiknya POLRI bisa lebih profesional lagi.......(semoga, itu harapan saya dan seluruh bangsa Indonesia)
Read more...
Hati-hati banyak lubang di jalanan Jakarta
Setelah baca berita ini, jadi ngeri juga kalau naik motor. Ya memang sempet mikir juga klo naik motor di Jakarta apalagi waktu hujan deres, ini naik motor apa motocross, gak kalah deh jalanan Jakarta ama trek motocross, musti waspada.
Sebetulnya saya sempat jadi korban juga sih ama lubang jalanan Jakarta, tepatnya di daerah volvo pasar minggu, pas banget di depan kantornya BIN, ya salah saya juga sih ngebut, padahal jalanannya kayak muka abg yg jerawatan. Tapi Alhamdulillah, gak kenapa-napa cuma jatuh sedikit, gak luka, spion cuma longgar dikit. Mungkin banyak pengendara motor yg lain yg juga mengalami hal seperti saya, bahakan banyak yang lebih parah mungkin.
Hal yg lebih menyeramkan saya lihat sendiri tanggal 24 Februari 2008 kemarin, kebetulan saya pulang malem dari Depok ke rumah, berangkat dari Depok jam 23.00, cuaca hujan tidak terlalu deras, karena sebelumnya sudah hujan deras. Kalau kita dari jalan Dewi Sartika mau ke Cawang kan belok kanan kemudian masuk terowongan, nah di ujung terowongan ini ada lubang yang lumayan banget besarnya. Ada seorang pengendara motor dengan kecepatan tinggi melewati lubang tersebut, saya pikir sih gak kenapa-kenapa, soalnya ancang-ancang yang diambil oleh sang pengendara kelihatan cukup siap, karena badannya sudah dia angkat sebelum melewati lubang. Namun memang sudah ditakdirkan, mungkin panik ditambah pula dengan jalanan yang licin, sepertinya beliau mengerem tangan dengan tiba-tiba yang menyebabkan motor sedikit oleng dan kemudian jatuh menyisir tanah dengan menyamping. Lumayan horor melihatnya, gesekan antara motor dan aspal menimbulkan percikan api, kayak di film-film itu lho. Sejenak hendak menolong, tapi agak ragu-ragu, karena kondisi jatuhnya di tengah-tengah jalan, sedang lalu lintas cukup ramai, plus kondisi hujan. Akhirnya dengan rasa bersalah sambil mendoakan keselamatan untuk si bapak pengendara motor yang jatuh itu, saya melanjutkan perjalanan.
Sekitar 60 meter di pertigaan di dekat underpass Cawang, kebetulan bertemu bapak polisi, yang akan menutup jalan karena akan ada pengerjaan jalur busway (setiap jam 23.00). Sejenak berhenti di depan mobil bapak polisi lalu lintas, untuk mengabarkan ada pengendara motor yang jatuh di dekat terowongan. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke rumah, biar gak kemaleman. Maklum besok hari Senin, masuk pagi jam 08.00, hehehehe, kayak gak tahu aja jalanan Jakarta kalau Senin Pagi.
Semoga Bapak pengendara motor yang jatuh itu selamat dan tidak mengalami luka yang serius. Mungkin pihak Dinas PU DKI Jakarta serta Departemen PU, bisa segera menangani masalah jalanan lubang di Jakarta. Saya percaya mereka bisa kok asal berusaha, udah gak jaman instansi pemerintah gak bisa profesional, kalau memang tidak bisa juga, yaa... berarti mereka semua harus diganti. :p.
Peace. Let's make this country better for our children and grandchildren in the future.
Read more...
Sebetulnya saya sempat jadi korban juga sih ama lubang jalanan Jakarta, tepatnya di daerah volvo pasar minggu, pas banget di depan kantornya BIN, ya salah saya juga sih ngebut, padahal jalanannya kayak muka abg yg jerawatan. Tapi Alhamdulillah, gak kenapa-napa cuma jatuh sedikit, gak luka, spion cuma longgar dikit. Mungkin banyak pengendara motor yg lain yg juga mengalami hal seperti saya, bahakan banyak yang lebih parah mungkin.
Hal yg lebih menyeramkan saya lihat sendiri tanggal 24 Februari 2008 kemarin, kebetulan saya pulang malem dari Depok ke rumah, berangkat dari Depok jam 23.00, cuaca hujan tidak terlalu deras, karena sebelumnya sudah hujan deras. Kalau kita dari jalan Dewi Sartika mau ke Cawang kan belok kanan kemudian masuk terowongan, nah di ujung terowongan ini ada lubang yang lumayan banget besarnya. Ada seorang pengendara motor dengan kecepatan tinggi melewati lubang tersebut, saya pikir sih gak kenapa-kenapa, soalnya ancang-ancang yang diambil oleh sang pengendara kelihatan cukup siap, karena badannya sudah dia angkat sebelum melewati lubang. Namun memang sudah ditakdirkan, mungkin panik ditambah pula dengan jalanan yang licin, sepertinya beliau mengerem tangan dengan tiba-tiba yang menyebabkan motor sedikit oleng dan kemudian jatuh menyisir tanah dengan menyamping. Lumayan horor melihatnya, gesekan antara motor dan aspal menimbulkan percikan api, kayak di film-film itu lho. Sejenak hendak menolong, tapi agak ragu-ragu, karena kondisi jatuhnya di tengah-tengah jalan, sedang lalu lintas cukup ramai, plus kondisi hujan. Akhirnya dengan rasa bersalah sambil mendoakan keselamatan untuk si bapak pengendara motor yang jatuh itu, saya melanjutkan perjalanan.
Sekitar 60 meter di pertigaan di dekat underpass Cawang, kebetulan bertemu bapak polisi, yang akan menutup jalan karena akan ada pengerjaan jalur busway (setiap jam 23.00). Sejenak berhenti di depan mobil bapak polisi lalu lintas, untuk mengabarkan ada pengendara motor yang jatuh di dekat terowongan. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke rumah, biar gak kemaleman. Maklum besok hari Senin, masuk pagi jam 08.00, hehehehe, kayak gak tahu aja jalanan Jakarta kalau Senin Pagi.
Semoga Bapak pengendara motor yang jatuh itu selamat dan tidak mengalami luka yang serius. Mungkin pihak Dinas PU DKI Jakarta serta Departemen PU, bisa segera menangani masalah jalanan lubang di Jakarta. Saya percaya mereka bisa kok asal berusaha, udah gak jaman instansi pemerintah gak bisa profesional, kalau memang tidak bisa juga, yaa... berarti mereka semua harus diganti. :p.
Peace. Let's make this country better for our children and grandchildren in the future.
Read more...
Mengurus Surat Tilang
Posted by
anjar widianto
on March 4, 2008
Labels:
belalang tempur,
jakarta,
tilang
/
Comments: (3)
Sebetulnya kejadian ini udah lama berlangsung, tapi mungkin ada baiknya diceritakan, siapa tahu bermanfaat bagi siapa saja.
Awal mula cerita terjadi saat mau ke nikahan seorang teman di Tanjung Priok tanggal 27 Januari 2008, janjian konvoi motor. Karena yang lain berangkat dari Depok, dan saya sendiri dari rumah, janji ketemu di Cawang Halim. Akhirnya perjalanan berlangsung melewati jalan di bawah jalan layang tol cawang-tanjung priok. Kebetulan karena ada seorang teman rumahnya di tanjung priok, beliau didaulat sebagai penunjuk jalan, dan yang lainnya mengikuti di belakangnya. Awalnya sih mulus-mulus aja, sampai ketika di dekat samsat kebon nanas, saat jalan bercabang menjadi jalur cepat dan lambat. Sesuai peraturan motor harusnya lewat jalur lambat, tetapi entah kenapa si teman sang penunjuk jalan lewat jalur cepat, awalnya agak ragu sih, tapi karena takut tercecer, soalnya memang terakhir dalam barisan, akhirnya ikut pula masuk jalur cepat.
Sekitar 60 meter tiba-tiba dipriitt sama bapak Polisi. Yup kena stop. Sudah terbayang ingatan masa lalu ketika distop oleh polisi dan dapat perlakuan yg tidak 'nyaman' :p. Tetapi sepertinya reformasi yg ada di tubuh POLRI buka isapan jempol, bapak polisi memberi salam dengan ramah, kemudian menanyakan kenapa lewat jalur cepat, ya saya sih mengakui dengan jujur kalau memang saya salah. Akhirnya saya minta tilang dan untuk yg ditahan saya minta SIM saja, berhubung STNK itu atas nama orangtua, hehehehe. Akhirnya dapat surat cinta yang isinya untuk menghadiri sidang di PN Jakarta Timur tanggal 8 Februari 2008. Sempet dikasih tahu juga lokasinya sama bapak Polisi, soalnya emang saya gak tahu jadinya dengan polos nanya dimana, hehehehe. Ternyata di Pulomas situ tho.
Dari 4 motor yg konvoi itu ternyata kisahnya berbeda saat perjumpaan dgn Polisi. Kalo cerita saya seperti di atas, satu orang sama persis dgn saya dapet sidang tanggal 8 Februari juga. Satu orang dapatnya tanggal 1 Februari, kok lebih cepet ya? sedang yg terakhir, sang penunjuk jalan, malah tidak kena, ya berhubung beliau tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara, beliau mempunyai kartu anggota pegawai Lembaga Sandi Negara, jadi beliau 'dibebaskan' oleh Polisi. Agak kesal sih, tapi ya itu mungkin lagi rejekinya gak kena tilang :p.
Ya udah sekarang nunggu sidang, awalnya blank bakal diapain, agak ngeri sih maklum statusnya terdakwa nih, hehehehehe. Tetapi setelah nyari-nyari di Internet akhirnya dapet cerita-cerita menarik. Selain itu dapet juga daftar denda-nya, menurut di table itu kayaknya sih kena pasal 61(1) Yo Psl.23(1) d Yo Psl 8 (1) b UULAJ Yo Psl 21 (1) & (4) PP 43/1993, gak tahu itu apaan, soalnya saya cuma copy-paste dari tabel-nya doang :p. Intinya di situ pelanggarannya "Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar rambu-rambu perintah atau larangan" kena dendanya Rp 30 ribu. Ya udah besok berarti bawa duit setidaknya 30 ribu.
Akhirnya tanggal 8 Feb pergi ke PN Jakarta Timur bareng teman, bukan-bukan bukan sama yg sama-sama sidang tgl 8, tapi sama yg sidang tgl 1. Berhubung tgl 1 Feb Jakarta dilanda hujan badai, dia gak dateng waktu tgl 1 Feb. Sampe di sana jam 09.30, trus langsung ke loket lalu lintas yang ada di sana. Karena memang hari itu sepi antrian cuma dua orang, saya sama teman saya, hehehehe. Teman saya dipanggil, lalu langsung disuruh bayar denda sebesar Rp 30.000. Kemudian saya dipanggil, saya lihat petugas mencap surat tilang saya, kemudian menuliskan sesusatu. Lalu surat tilang tsb dikembalikan kepada saya, kemudian petugas itu mengatakan sidangnya diundur jadi minggu depan tgl 15 Februari. Saya bertanya kenapa diundur? Dia menjelaskan bahwa hari ini seharusnya libur (tgl 7 Feb itu tgl merah Hari Imlek, dan rencananya 8 feb itu cuti bersama, tapi dibatalkan oleh pemerintah). Saya pun bertanya bukannya cuti bersamanya dibatalkan pak? Beliau mengatakan bahwa pengumuman pembatalan itu mendadak sehingga PN Jakarta Timur tetap libur. ???? Aneh memang, ya.. itulah Indonesia.
Lalu kenapa teman saya langsung bayar denda dan mendapatkan SIM-nya kembali? Itu karena sidangnya harusnya tgl 1, jadi mungkin dia disidang secara in-absentia. Jadi dia tinggal bayar dendanya. Ya sudahlah sebagai hamba hukum patuh saja sama keputusan pengadilan, kalau diundur ya diundur, hehehehe.
Tgl 15 Feb datang lagi, kali ini sampai di sana pukul 09.40. Suasana lebih ramai dari tanggal 8. Baru saja sampai langsung dihampiri mas-mas, sepertinya calo, berikut percakapannya
Calo : mau urus apa mas?
saya : SIM
Calo : mau dibantu?
saya : makasih gak usah
calo : lama lho, sejam lagi istirahat
saya : ya gapapa klo istirahat, ditunggu sampe masuk lagi.
langsung menuju ke loket, sebelum sampai, tiba2 ada bapak2 tua memakai baju koko dan kopiah tiba-tiba langsung mencegat, kemudian nawarin jasa calonya. Agak kasar dan gak sopan dibanding mas-mas yg tadi, langsung aja saya bentak gak. Kemudian serahin surat tilang ke loket, nunggu dipanggil lama banget, agak banyak memang 'terdakwa'-nya. Saya lihat banyak sekali orang yg juga kena tilang tampangnya linglung semua, sehingga banyak pula yang percaya pada calo. Akhirnya setelah agak lama berdiri dipanggil juga saya, disuruh menuju ke ruang sidang.
Sampai di ruang sidang disuruh menunggu, lumayan bosen juga. Saat nunggu sempet ngobrol sama 'terdakwa' yang lain hehehe. Rata-rata meraka pada gak sabaran dan sepertinya mereka cenderung mememilih 'damai' di jalan dibandingkan ikut sidang. Akhirnya para 'terdakwa' dipanggil satu-satu, saya termasuk yang dipanggil awal-awal. Saat di depan meja hakim saya hanya melihat dan mengikuti berkas tilang serta SIM saya ditandatangani para hakim kemudian saya ambil dan serahkan ke kasir (letak kasirnya cuma di depan meja hakim-nya) lalu diberitahukan denda-nya, sebetulnya denda-nya ada di berkas tilang-nya tapi saya sengaja tidak segera mengeluarkan uang biar kasirnya memberi tahu, yak Rp 26.000 itu jumlah denda tilang yg saya harus bayar. Saya ambil SIM saya, kemudian keluar ruang sidang, sejenak lihat jam di handphone, pukul 10.15. Wowww kata siapa ngurus tilang susah? dateng jam 09.40 selesai jam 10.15 cuma 35 menit. Hehehehe. Gampang kok dan gak lama. Salut deh ama ditlantas polda metro jaya dan sedikit salut buat PN jakarta Timur (soalnya sidang saya diundur gara-gara alasan yg aneh).
Jadi saya sarankan buat siapa aja yang melanggar lalu lintas di jalan, mending jangan main 'damai' sama polisi. Soalnya jelas-jelas kita salah (bagi yg bener-bener salah) mosok nambahin kesalahan lagi dengan menyuap si bapak polisi. Lagipula dendanya cuma 26 ribu kok, klo di jalan kan keluar setidaknya 50 ribu.
Kalau mau Indonesia tertib dan maju, memang harus kita tertibkan dan majukan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Read more...
Awal mula cerita terjadi saat mau ke nikahan seorang teman di Tanjung Priok tanggal 27 Januari 2008, janjian konvoi motor. Karena yang lain berangkat dari Depok, dan saya sendiri dari rumah, janji ketemu di Cawang Halim. Akhirnya perjalanan berlangsung melewati jalan di bawah jalan layang tol cawang-tanjung priok. Kebetulan karena ada seorang teman rumahnya di tanjung priok, beliau didaulat sebagai penunjuk jalan, dan yang lainnya mengikuti di belakangnya. Awalnya sih mulus-mulus aja, sampai ketika di dekat samsat kebon nanas, saat jalan bercabang menjadi jalur cepat dan lambat. Sesuai peraturan motor harusnya lewat jalur lambat, tetapi entah kenapa si teman sang penunjuk jalan lewat jalur cepat, awalnya agak ragu sih, tapi karena takut tercecer, soalnya memang terakhir dalam barisan, akhirnya ikut pula masuk jalur cepat.
Sekitar 60 meter tiba-tiba dipriitt sama bapak Polisi. Yup kena stop. Sudah terbayang ingatan masa lalu ketika distop oleh polisi dan dapat perlakuan yg tidak 'nyaman' :p. Tetapi sepertinya reformasi yg ada di tubuh POLRI buka isapan jempol, bapak polisi memberi salam dengan ramah, kemudian menanyakan kenapa lewat jalur cepat, ya saya sih mengakui dengan jujur kalau memang saya salah. Akhirnya saya minta tilang dan untuk yg ditahan saya minta SIM saja, berhubung STNK itu atas nama orangtua, hehehehe. Akhirnya dapat surat cinta yang isinya untuk menghadiri sidang di PN Jakarta Timur tanggal 8 Februari 2008. Sempet dikasih tahu juga lokasinya sama bapak Polisi, soalnya emang saya gak tahu jadinya dengan polos nanya dimana, hehehehe. Ternyata di Pulomas situ tho.
Dari 4 motor yg konvoi itu ternyata kisahnya berbeda saat perjumpaan dgn Polisi. Kalo cerita saya seperti di atas, satu orang sama persis dgn saya dapet sidang tanggal 8 Februari juga. Satu orang dapatnya tanggal 1 Februari, kok lebih cepet ya? sedang yg terakhir, sang penunjuk jalan, malah tidak kena, ya berhubung beliau tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara, beliau mempunyai kartu anggota pegawai Lembaga Sandi Negara, jadi beliau 'dibebaskan' oleh Polisi. Agak kesal sih, tapi ya itu mungkin lagi rejekinya gak kena tilang :p.
Ya udah sekarang nunggu sidang, awalnya blank bakal diapain, agak ngeri sih maklum statusnya terdakwa nih, hehehehehe. Tetapi setelah nyari-nyari di Internet akhirnya dapet cerita-cerita menarik. Selain itu dapet juga daftar denda-nya, menurut di table itu kayaknya sih kena pasal 61(1) Yo Psl.23(1) d Yo Psl 8 (1) b UULAJ Yo Psl 21 (1) & (4) PP 43/1993, gak tahu itu apaan, soalnya saya cuma copy-paste dari tabel-nya doang :p. Intinya di situ pelanggarannya "Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar rambu-rambu perintah atau larangan" kena dendanya Rp 30 ribu. Ya udah besok berarti bawa duit setidaknya 30 ribu.
Akhirnya tanggal 8 Feb pergi ke PN Jakarta Timur bareng teman, bukan-bukan bukan sama yg sama-sama sidang tgl 8, tapi sama yg sidang tgl 1. Berhubung tgl 1 Feb Jakarta dilanda hujan badai, dia gak dateng waktu tgl 1 Feb. Sampe di sana jam 09.30, trus langsung ke loket lalu lintas yang ada di sana. Karena memang hari itu sepi antrian cuma dua orang, saya sama teman saya, hehehehe. Teman saya dipanggil, lalu langsung disuruh bayar denda sebesar Rp 30.000. Kemudian saya dipanggil, saya lihat petugas mencap surat tilang saya, kemudian menuliskan sesusatu. Lalu surat tilang tsb dikembalikan kepada saya, kemudian petugas itu mengatakan sidangnya diundur jadi minggu depan tgl 15 Februari. Saya bertanya kenapa diundur? Dia menjelaskan bahwa hari ini seharusnya libur (tgl 7 Feb itu tgl merah Hari Imlek, dan rencananya 8 feb itu cuti bersama, tapi dibatalkan oleh pemerintah). Saya pun bertanya bukannya cuti bersamanya dibatalkan pak? Beliau mengatakan bahwa pengumuman pembatalan itu mendadak sehingga PN Jakarta Timur tetap libur. ???? Aneh memang, ya.. itulah Indonesia.
Lalu kenapa teman saya langsung bayar denda dan mendapatkan SIM-nya kembali? Itu karena sidangnya harusnya tgl 1, jadi mungkin dia disidang secara in-absentia. Jadi dia tinggal bayar dendanya. Ya sudahlah sebagai hamba hukum patuh saja sama keputusan pengadilan, kalau diundur ya diundur, hehehehe.
Tgl 15 Feb datang lagi, kali ini sampai di sana pukul 09.40. Suasana lebih ramai dari tanggal 8. Baru saja sampai langsung dihampiri mas-mas, sepertinya calo, berikut percakapannya
Calo : mau urus apa mas?
saya : SIM
Calo : mau dibantu?
saya : makasih gak usah
calo : lama lho, sejam lagi istirahat
saya : ya gapapa klo istirahat, ditunggu sampe masuk lagi.
langsung menuju ke loket, sebelum sampai, tiba2 ada bapak2 tua memakai baju koko dan kopiah tiba-tiba langsung mencegat, kemudian nawarin jasa calonya. Agak kasar dan gak sopan dibanding mas-mas yg tadi, langsung aja saya bentak gak. Kemudian serahin surat tilang ke loket, nunggu dipanggil lama banget, agak banyak memang 'terdakwa'-nya. Saya lihat banyak sekali orang yg juga kena tilang tampangnya linglung semua, sehingga banyak pula yang percaya pada calo. Akhirnya setelah agak lama berdiri dipanggil juga saya, disuruh menuju ke ruang sidang.
Sampai di ruang sidang disuruh menunggu, lumayan bosen juga. Saat nunggu sempet ngobrol sama 'terdakwa' yang lain hehehe. Rata-rata meraka pada gak sabaran dan sepertinya mereka cenderung mememilih 'damai' di jalan dibandingkan ikut sidang. Akhirnya para 'terdakwa' dipanggil satu-satu, saya termasuk yang dipanggil awal-awal. Saat di depan meja hakim saya hanya melihat dan mengikuti berkas tilang serta SIM saya ditandatangani para hakim kemudian saya ambil dan serahkan ke kasir (letak kasirnya cuma di depan meja hakim-nya) lalu diberitahukan denda-nya, sebetulnya denda-nya ada di berkas tilang-nya tapi saya sengaja tidak segera mengeluarkan uang biar kasirnya memberi tahu, yak Rp 26.000 itu jumlah denda tilang yg saya harus bayar. Saya ambil SIM saya, kemudian keluar ruang sidang, sejenak lihat jam di handphone, pukul 10.15. Wowww kata siapa ngurus tilang susah? dateng jam 09.40 selesai jam 10.15 cuma 35 menit. Hehehehe. Gampang kok dan gak lama. Salut deh ama ditlantas polda metro jaya dan sedikit salut buat PN jakarta Timur (soalnya sidang saya diundur gara-gara alasan yg aneh).
Jadi saya sarankan buat siapa aja yang melanggar lalu lintas di jalan, mending jangan main 'damai' sama polisi. Soalnya jelas-jelas kita salah (bagi yg bener-bener salah) mosok nambahin kesalahan lagi dengan menyuap si bapak polisi. Lagipula dendanya cuma 26 ribu kok, klo di jalan kan keluar setidaknya 50 ribu.
Kalau mau Indonesia tertib dan maju, memang harus kita tertibkan dan majukan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Read more...
Zondvloed in Batavia
Event lima tahunan, apa yang terbayang jika kita mendengar kata ini, Pemilu? Sidang Umum MPR? Rencana Pembangunan Lima Tahun? Pilkada? Di Jakarta ada sebuah event yang mengalahkan semua event tersebut, bagaimana tidak event lima tahunan ini menyita perhatian semua pihak, bahkan
sampai membuat sekolah-sekolah diliburkan, pegawai-pegawai kantor mengajukan cuti, transportasi bahkan musti dinon-aktifkan. Dan yang turun tangan untuk meng-handle event ini bukannya cuma gubernur bahkan Presiden musti turun tangan, sampai diadakan sidang kabinet terbatas untuk membahas masalah ini. Perhatian pers juga gak tanggung2, hampir selama seminggu lamanya, semua suratkabar headline-nya memuat berita event ini, tak ketinggalan radio, bahkan televisi menghadirkan program breaking news untuk melaporkan berita mengenai jalannya event ini. Ya memang Banjir Besar Ibukota Jakarta adalah event lima tahunan yang tidak diharapkan oleh semua pihak, tapi tetap saja usaha mengatasinya belum terlalu serius dari dulu.
Banjir kali ini bisa dikatakan cukup dahsyat hampir semua wilayah di Jakarta terkena banjir, bukan hanya Jakarta saja, tapi juga daerah-daerah penyangganya yaitu Tangerang dan Bekasi. Mungkin banyak yang berpikir Pemerintah khususnya Pemerintah DKI Jakarta gak pernah belajar dari apa yang pernah terjadi dan dialami. Kesannya masa bodoh dan menganggap remeh mengenai bencana banjir yang hampir setiap tahun terjadi, dan tiap lima tahun banjir besar. Yah disini saya gak mau ikut-ikutan maki-maki, cuma mau ikut sumbang wacana aja.
Jakarta, Betawi, Batavia, or anything you called this city, dari dulu memang rawan banjir. Tahun 1900-an Pemerintah Hindia Belanda sudah merasa perlu membenahi sistem drain
ase kota Batavia, disebabkan terjadi banjir besar kala itu. Rencananya akan dibuat tiga buah banjir Kanal, yaitu Banjir Kanal Barat, Banjir Kanal Tengah, dan Banjir Kanal Timur. Ditambah beberapa buah waduk, diantaranya Waduk Melati, Waduk Pluit, Waduk Tebet, Waduk Surabaya, apalagi ya (waduh lupa, referensinya juga ilang nih). Selain itu mereka juga akan tetap melestarikan resapan-resapan air seperti rawa-rawa yang ada di Jakarta.
Tapi Belanda keburu pergi dan proyek pun terbengkalai mandek di tengah jalan. Pemerintah Indonesia sepertinya belum memandang penting masalah ini, ya maklumlah, dulu kan lagi jaman revolusi. Baru pada tahun 1965, setelah terjadi banjir di Jakarta, Presiden Sukarno mengeluarkan instruksi presiden untuk melanjutkan proyek kolonial itu, pada waktu itu yang dibangun dulu adalah Banjir Kanal Tengah, yaitu saluran untuk mengalirkan sungai-sungai yang mengalir di daerah tengah kota Jakarta (e.g. Ciliwung). Tapi lagi-lagi pergantian penguasa membuat proyek tidak rampung2, cuma Banjir Kanal Tengah yang selesai.
Masa Orde baru, hampir tidak ada sesuatu yang baru, walaupun di sekita kali-kali di Jakarta banyak bangunan-bangunan baru dari mulai gedung perkantoran, mal-mal, sampai rumah-rumah kumuh. Rencana untuk mengatasi banjir tetap ada, tapi kacau rencana Belanda yang mau buatt iga Banjir Kanal, dikorting jadi cuma dua, Banjir Kanal Barat dilikuidasi lalu Banir Kanal Tengah yang sudah jadi diganti namanya jadi Banjir Kanal Barat, entah mengapa.
Orde baru pun tewas, tapi pergantian pemimpin tetap saja tidak membuat warga Jakarta bebas dari banjir, bahkan pada tahun 2002 terjadi banjir paling parah dalam sejarah. 30% wilayah Jakarta tergenang. Seolah tak mau belajar dari pengalaman, tahun 2007 kembali terulang, banjir semakin pintar kali ini 60%, berarti dalam waktu 5 tahun banjir bisa meningkatkan kemampuan meluapnya menjadi 100%. Benar-benar hebat.
Mungkin sekarang saatnya kita sama-sama berpikir supaya bagaimana caranya kota kita ini bebas dari banjir. Event pertama yg mungkin bisa menuju ke arah sana adalah Pilkada Jakarta 2007. Gampang aja kita pilih calon gubernur yang punya solusi untuk menyelesaikan dua masalah utama Jakarta, yaitu banjir dan macet, Bagaimana?
Read more...
Banjir kali ini bisa dikatakan cukup dahsyat hampir semua wilayah di Jakarta terkena banjir, bukan hanya Jakarta saja, tapi juga daerah-daerah penyangganya yaitu Tangerang dan Bekasi. Mungkin banyak yang berpikir Pemerintah khususnya Pemerintah DKI Jakarta gak pernah belajar dari apa yang pernah terjadi dan dialami. Kesannya masa bodoh dan menganggap remeh mengenai bencana banjir yang hampir setiap tahun terjadi, dan tiap lima tahun banjir besar. Yah disini saya gak mau ikut-ikutan maki-maki, cuma mau ikut sumbang wacana aja.
Jakarta, Betawi, Batavia, or anything you called this city, dari dulu memang rawan banjir. Tahun 1900-an Pemerintah Hindia Belanda sudah merasa perlu membenahi sistem drain
ase kota Batavia, disebabkan terjadi banjir besar kala itu. Rencananya akan dibuat tiga buah banjir Kanal, yaitu Banjir Kanal Barat, Banjir Kanal Tengah, dan Banjir Kanal Timur. Ditambah beberapa buah waduk, diantaranya Waduk Melati, Waduk Pluit, Waduk Tebet, Waduk Surabaya, apalagi ya (waduh lupa, referensinya juga ilang nih). Selain itu mereka juga akan tetap melestarikan resapan-resapan air seperti rawa-rawa yang ada di Jakarta.Tapi Belanda keburu pergi dan proyek pun terbengkalai mandek di tengah jalan. Pemerintah Indonesia sepertinya belum memandang penting masalah ini, ya maklumlah, dulu kan lagi jaman revolusi. Baru pada tahun 1965, setelah terjadi banjir di Jakarta, Presiden Sukarno mengeluarkan instruksi presiden untuk melanjutkan proyek kolonial itu, pada waktu itu yang dibangun dulu adalah Banjir Kanal Tengah, yaitu saluran untuk mengalirkan sungai-sungai yang mengalir di daerah tengah kota Jakarta (e.g. Ciliwung). Tapi lagi-lagi pergantian penguasa membuat proyek tidak rampung2, cuma Banjir Kanal Tengah yang selesai.
Masa Orde baru, hampir tidak ada sesuatu yang baru, walaupun di sekita kali-kali di Jakarta banyak bangunan-bangunan baru dari mulai gedung perkantoran, mal-mal, sampai rumah-rumah kumuh. Rencana untuk mengatasi banjir tetap ada, tapi kacau rencana Belanda yang mau buatt iga Banjir Kanal, dikorting jadi cuma dua, Banjir Kanal Barat dilikuidasi lalu Banir Kanal Tengah yang sudah jadi diganti namanya jadi Banjir Kanal Barat, entah mengapa.
Orde baru pun tewas, tapi pergantian pemimpin tetap saja tidak membuat warga Jakarta bebas dari banjir, bahkan pada tahun 2002 terjadi banjir paling parah dalam sejarah. 30% wilayah Jakarta tergenang. Seolah tak mau belajar dari pengalaman, tahun 2007 kembali terulang, banjir semakin pintar kali ini 60%, berarti dalam waktu 5 tahun banjir bisa meningkatkan kemampuan meluapnya menjadi 100%. Benar-benar hebat.
Mungkin sekarang saatnya kita sama-sama berpikir supaya bagaimana caranya kota kita ini bebas dari banjir. Event pertama yg mungkin bisa menuju ke arah sana adalah Pilkada Jakarta 2007. Gampang aja kita pilih calon gubernur yang punya solusi untuk menyelesaikan dua masalah utama Jakarta, yaitu banjir dan macet, Bagaimana?
Read more...
New Kamen Rider
Posted by
anjar widianto
on January 12, 2007
Labels:
belalang tempur,
jakarta
/
Comments: (0)
Liburan...mmm sebetulnya gw gak terlalu antusias dengan kata liburan, bukannya sok senang bekerja dan belajar, tapi emang entah kenapa dari dulu merasa there's nothing special with holiday, entah apa karena gw emang orang yang easy going jadi ngerasa seluruh hidup gw holiday ato apa ya tak tahulah. Tapi liburan kali ini ada yang spesial gw libur bareng sama nyokap gw yg juga libur, alhasil motor yang selalu mommy pake nganggur di rumah, hehehehe. Akhirnya motor pun gw pake untuk berkeliling Jakarta, maklumlah mobilitas yang tinggi lagi gw butuhkan saat ini. Hehe jalanan Jakarta yang sudah sumpek dengan pengendara motor pun terpaksa harus kembali dijejajali karena ditambah satu orang 'Rider' baru.
Hari pertama make motor (29 Des 2006) rencana mo ke kosan di depok, meluncurlah gw ke depok wuhuhu, Pondok Kopi - Depok yang biasanya gw tempuh sekitar 1 jam 45 menit klo naik kereta ato 2 jam 30 menit klo naik angkot dibabat habis cuma 45 menit dgn naik motor, emang gw rada sableng juga sih tancap gas mulu (maklum anak muda sukanya tergesa-gesa). Lagi enak-enak main game di kompie-nya dhana, maklum sejak dhana merestorasi komputernya 1 tahun lalu gw jadi ilfil klo main game di kompie sendiri, ya iyalah udah ngerasain main game di kompie canggih pasti ogah kalo main game di kompie yang 'bersahaja', bokap nelpon wuisss hp pun berdering nyaring di keremangan kamar kosan, bokap ternyata minta dianterin mapnya yg ketinggalan di rumah, waduh gimana nih gw kan di depok, tapi gw gak bilang klo gw di depok, segera gw berangkat ke rumah untuk ngambil map yang ketinggalan, terus gw anterin ke kantor bokap di daerah kemayoran, mungkin banyak yang mikir ngapain sih capek-capek, kurang kerjaan apa? Emang gw kurang kerjaan makanya gw lakuin juga.
Ah capek juga Depok - Pondok Kopi - Kemayoran, kayak reli aja. Saat p
erjalanan ini gw akhirnya mengerti kenapa Jakarta itu dikategorikan sebagai salah satu kota terpolusi di dunia. Sampe di kemayoran mata perih, hidung berair, napas sesak. Gw ga tahu entah udah berapa banyak polutan yang gw hirup selama perjalanan, uhuk-uhuk. However gw musti balik ke rumah jadi gw harus kembali menempuh medan ganas penuh polusi. Tapi gw butuh proteksi lebih kayak di iklan2 githu , tapi gw kan ga bawa masker, jadinya terpaksa, tak ada gadis janda pun jadi, gw ikat sapu tangan untuk menutupi hidung serta mulut, jadi gw ibarat make topeng alias 'Kamen' jadinya gw sudah bertransformasi menjadi 'Kamen Rider'. BERUBAH!! Akhirnya walopun tetep aja sih masih ada polutan-polutan ya setidaknya berkuranglah batuk-batuk gw. Kehidupan gw sebagai Kamen Rider berlanjut di hari-hari berikutnya, terakhir kali gw jadi Kamen Rider (sampai gw nulis blog ini) kemarin 11 Januari 2007. Walopun begitu begitu mommy masuk kembali, gw harus merelakan belalang tempur gw untuk digunakan mommy. Dan terpaksa gelar Kamen Rider harus gw tanggalkan. Yaa mungkin para pemirsa juga mungkin kecewa dengan keputusan ini tapi walopun Kamen Rider telah pergi, dia akan selalu hidup di hati orang-orang yang percaya kepada kebenaran dan percaya kepada Kamen Rider.
Read more...
Hari pertama make motor (29 Des 2006) rencana mo ke kosan di depok, meluncurlah gw ke depok wuhuhu, Pondok Kopi - Depok yang biasanya gw tempuh sekitar 1 jam 45 menit klo naik kereta ato 2 jam 30 menit klo naik angkot dibabat habis cuma 45 menit dgn naik motor, emang gw rada sableng juga sih tancap gas mulu (maklum anak muda sukanya tergesa-gesa). Lagi enak-enak main game di kompie-nya dhana, maklum sejak dhana merestorasi komputernya 1 tahun lalu gw jadi ilfil klo main game di kompie sendiri, ya iyalah udah ngerasain main game di kompie canggih pasti ogah kalo main game di kompie yang 'bersahaja', bokap nelpon wuisss hp pun berdering nyaring di keremangan kamar kosan, bokap ternyata minta dianterin mapnya yg ketinggalan di rumah, waduh gimana nih gw kan di depok, tapi gw gak bilang klo gw di depok, segera gw berangkat ke rumah untuk ngambil map yang ketinggalan, terus gw anterin ke kantor bokap di daerah kemayoran, mungkin banyak yang mikir ngapain sih capek-capek, kurang kerjaan apa? Emang gw kurang kerjaan makanya gw lakuin juga.
Ah capek juga Depok - Pondok Kopi - Kemayoran, kayak reli aja. Saat p
erjalanan ini gw akhirnya mengerti kenapa Jakarta itu dikategorikan sebagai salah satu kota terpolusi di dunia. Sampe di kemayoran mata perih, hidung berair, napas sesak. Gw ga tahu entah udah berapa banyak polutan yang gw hirup selama perjalanan, uhuk-uhuk. However gw musti balik ke rumah jadi gw harus kembali menempuh medan ganas penuh polusi. Tapi gw butuh proteksi lebih kayak di iklan2 githu , tapi gw kan ga bawa masker, jadinya terpaksa, tak ada gadis janda pun jadi, gw ikat sapu tangan untuk menutupi hidung serta mulut, jadi gw ibarat make topeng alias 'Kamen' jadinya gw sudah bertransformasi menjadi 'Kamen Rider'. BERUBAH!! Akhirnya walopun tetep aja sih masih ada polutan-polutan ya setidaknya berkuranglah batuk-batuk gw. Kehidupan gw sebagai Kamen Rider berlanjut di hari-hari berikutnya, terakhir kali gw jadi Kamen Rider (sampai gw nulis blog ini) kemarin 11 Januari 2007. Walopun begitu begitu mommy masuk kembali, gw harus merelakan belalang tempur gw untuk digunakan mommy. Dan terpaksa gelar Kamen Rider harus gw tanggalkan. Yaa mungkin para pemirsa juga mungkin kecewa dengan keputusan ini tapi walopun Kamen Rider telah pergi, dia akan selalu hidup di hati orang-orang yang percaya kepada kebenaran dan percaya kepada Kamen Rider.Read more...